Sabtu, 29 Februari 2020

Empat Alasan Kenapa Pameran Produk UKM PLUT Jogja 2020 Patut Menjadi Percontohan Nasional


Yogyakarta-Tren Usaha Kecil Menengah memiliki peningkatan dari tahun-ke tahun. Anda mungkin juga salah satu pelaku UKM tersebut. UKM menjadi salah satu strategi pemerintah untuk mendongkrak perekonomian nasional. Di tengah dinamika perang dagang dua negara adidaya AS dan Tiongkok serta isu global lainnya yang membuat perekonomian banyak negara ikut terdampak, Indonesia mulai menggunakan UKM sebagai penggerak roda perekonomiannya. Salah satu alasan kenapa pemerintah banyak berharap dari UKM adalah nyaris tidak berimbasnya perang dagang terhadap ekosistem UKM. Bahan baku produksi lokal dan tenaga kerja lokal menjadi faktor utama kenapa hal ini bisa terjadi. 

Menurut data BPS pada tahun 2019, UKM menyumbang 2.2 Triliun terhadap PDB negara Indonesia, angka ini sama dengan 65% dari total PDB Indonesia. Selain itu, UKM juga berhasil menyerap sebanyak 99% tenaga kerja nasional. Potensi yang besar ini tentu harus dioptimalkan dengan sebaik-baiknya demi kepentingan nasional. Tapi pertanyaannya, apakah bisa pemerintah dan pelaku UKM saling bahu membahu untuk mengeksekusi peluang tersebut? Seperti yang kita tau, UKM memiliki citra sebagai ekonomi marjinal dengan produk kelas 2, sedangkan pemerintah dianggap sering miss dalam melakukan eksekusi ide karena tidak tau lapangannya seperti apa. Namun saya rasa, hal ini tidak berlaku di DIY, khususnya pada penyelenggaraan kegiatan Expo UKM yang diinisiasi oleh Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUY) dan Dinas Koperasi dan UKM DIY. Berikut adalah 3 hal yang menurut saya adalah alasan kenapa pameran produk UKM PLUT Jogja layak menjadi percontohan untuk acara serupa secara nasional.

1. Digarap Secara Serius dan Berkala oleh Pemerintah 


Expo ini sebenarnya adalah rangkaian acara dari program pembinaan UKM yang dilakukan oleh PLUT. Program ini meliputi konsultasi, pelatihan, pendampingan usaha di wilayah DIY. Program yang telah berlangsung selama bertahun-tahun ini menyediakan tidak hanya hal manjerial, tapi juga hal-hal teknis seperti digital marketing, branding produk, hingga pendaftaran IRT dimana kesemuanya ini dibiayai penuh oleh pemerintah. Expo inipun juga dilaksanakan tidak hanya sekali, namun tiap 35 hari sekali atau yang dalam istilah jawa disebut selapanan. Harapannya, di setiap expo yang digelar, para pelaku UKM dapat melakukan evaluasi yang didapatkan dari bagaimana penerimaan masyarakat terhadap produk mereka.

2. Acara Yang Beragam dan Keterlibatan Anak Muda



Biasanya UKM dan kegiatan yang dilabeli dengan UKM identik dengan kegiatan yang traditional, membosankan, dan kurang anak muda. Disini, stigma itu perlahan-lahan mulai dipatahkan. Acara ini, dari mulai MC, pengisi, penyelenggara, pengisi stand, hingga audiensnya, kebanyakan justru didominasi oleh anak muda. Mereka tampak antusias menjadi bagian dari expo ini. Hal ini tentu menjadi hal yang menarik apalagi jika kita kaitkan dengan kondisi Indonesia yang mengalami surplus usia muda. Anak muda yang mulai tertarik menjadi motor industri UKM akan membawa angin segara untuk perekonomian Nasional.

3. Diversifikasi Produk dan Anti Ikut-Ikutan









Salah satu hal yang paling umum dijumpai di expo adalah adanya kesamaan produk yang dijual, dalam kasus ekstrimnya, bahkan bisa dalam satu expo 35% produk adalah produk sejenis dengan variasi minim. Di expo kali ini, kita akan kesulitan menemukan produk serupa. Dari total 30an stand yang ada, hanya ada 1 produk yang sama, yaitu kopi, meskipun begitu, kedua produk ini memiliki preposition value yang benar-benar berbeda. Ini adalah salah satu upaya kurasi yang dilakukan pihak penyelenggara, agar setiap produk dapat menunjukan keunggulan masing-masingnya dan  menjadi komoditas unggul.

4. Branding Modern dan Arah Menuju Ekspor

Pelaku UKM cenderung adalah produsen yang hebat, namun gagap memasarkan produknya. Rata-rata produk buatan UKM biasanya memiliki kualitas dan rasa yang tinggi, namun masih minim dalam kemasan. Diexpo kali ini, hal ini perlahan mulai menjadi mitos. Para pengisi stand memiliki kemasan yang eye catching dan ketika saya tanya, beberapa sudah memiliki brand guideline dan mulai aktif melakukan campaign di sosial media. Dan ketika saya tanya salah satu pemilik brand yang memiliki branding yang sudah bagus, dia mengatakan bahwa ini merupakan salah satu hasil kurasi produk dari PLUT dan memang disiapkan untuk diekspor.

Buat kalian yang membaca ini lalu penasaran, tidak perlu khawatir. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, program ini dilakukan selama 35 hari sekali selama 1 tahun, Jadi, kalian bisa ikut dan menikmati keseruan di kesempatan berikutnya :). Kalian bisa pantau melalui official account Instagranm PLUT(plutjogja) dan Diskopukmdiy(diskopukm.diy) atau melalui website www.diskopumkm.jogjaprov.go.id. Sampai bertemu di expo selanjutnya!